✕ Close

Tidak Ada Nilai Moralnya

Setiap tahun, mahasiswa Sastra Indonesia (Sasindo) Undip mengadakan yang biasa disebut makrab atau malam keakraban. Namanya kadang berganti bukan makrab, seperti tahun ini misalnya namanya jadi kemah bakti. Padahal ya acaranya hampir sama setiap tahun. Lokasi makrab selalu di Barak Militer Bantir, Sumowono, Semarang, Jawa Tengah. Entah sejak kapan, yang jelas sudah 5 tahun lebih di sana. Jadi, secara turun-temurun kami menyebut acara ini Makrab Sasindo di Bantir.

Yang menjadi panitia makrab adalah mahasiswa semester 3 dan yang menjadi peserta makrab adalah mahasiswa semester 1. Kalau dulu acara ini termasuk LKMMPD (LKMM Pra Dasar) tapi sepertinya sejak beberapa tahun yang lalu dipisah karena aturan kampus. Inti kegiatan ini adalah mengenalkan mahasiswa semester 1 atau sering disebut maba (mahasiswa baru) kepada teman-teman angkatannya sendiri, kakak tingkat, dan lingkungan jurusan atau program studi. Intinya agar saling mengenal lah.

Pada tahun ini, aku termasuk angkatan 2013 (yang belum juga lulus). Aku dengan peserta makrab berjarak 5 tahun. Aku dan teman-temanku yang lain datang bukan sebagai panitia atau peserta. Kami selaku kakak tingkat (senior) biasanya hanya ikut tampil saat pentas seni dan mengisi pos saat outbond mewakili angkatan.

Pentas Improvisasi

Biasanya kami Sastra Indonesia angkatan 2013 berkumpul dan berangkat dari Tembalang pada hari sabtu sehabis isya sekira pukul 8 malam dan sampai Bantir biasanya pukul 9 malam. Kami datang tepat pada saat penyelenggaraan pentas seni. Untuk peserta tampil tiap kelompok, dan untuk kakak tingkat tampil tiap angkatan.

Di Sasindo Undip, kakak-kakak tingkat yang sudah tidak bisa mewakili angkatan akan berkumpul lintas angkatan dan disebut Oldstar. Pada malam itu, sabtu 3 november 2018 sebenarnya kami bisa menampilkan mewakili angkatan kami saja yaitu Sineas (Sastra Indonesia Angkatan Dua Ribu Tiga Belas). Namun sepertinya Oldstar juga sedikit yang datang, akhirnya Sineas bergabung dengan Oldstar pentas secara mendadak.

Tahun-tahun sebelumnya setiap akan makrab biasanya angkatan kami sudah membuat konsep pentas. Kadang bukan cuma konsep, kami bahkan menyempatkan latihan untuk pentas di makrab. Namun karena sudah banyak yang lulus dan sibuk, malam itu kami pentas tanpa rencana.

Dengan diskusi selama beberapa menit, kami memutuskan untuk melakukan pentas wayang orang secara kontemporer dan improvisasi penuh. Yang menjadi dalang ada dua orang, agar ketika dalang pertama buntu, bisa langsung disambut oleh dalang kedua. Fungsi 2 dalang juga bisa untuk membuat dalang saling memberi punchline dalam cerita yang sedang dibangun.

Yang menjadi dalang adalah @pudijaya dan aku. Sisanya menjadi wayang yang harus siap menjalankan apapun yang kami ucapkan. Aku dan Pudi tidak ada pegangan cerita, jadi waktu itu kami benar-benar improvisasi secara penuh, baik narasi maupun dialog. Beruntungnya penampilan malam itu pecah meski agak kacau.

Mengisi Pos Outbond

Setelah pentas kami didatangi beberapa panitia dan diminta untuk mengisi pos etika. Aku menolak dan meminta untuk mengisi pos lainnya saja. Alasan utamanya adalah karena kami kurang beretika. Namun entah kenapa, ujung-ujungnya tetap saja diisi oleh angkatan kami.

Perwakilan Sineas Mengisi Pos Etika

Ketika itu Pudi seorang diri memandu pos etika dengan didampingi pantauan dari Tahul dan Nouval. Aku datang menyusul bersama Irman dan Untung. Aku dan Irman kemudian ikut nimbrung dan mendengarkan bagaimana Pudi memandu pos etika. Di sela-sela itu semua, kami difoto dengan kamera milik Alkayyisu.

Jangka, Irman, dan Pudi Memandu Pos Etika

Pudi mengisi pos etika dengan membawa sebuah cerita pembuka dengan sebuah konsep bagaimana jika presiden memerintahkan rakyat untuk makan pare selama satu tahun penuh. Kemudian para maba akan menjawab dengan penolakan. Kemudian Pudi akan menggiring ke bahasan bagaimana cara menolak yang baik dan beretika.

Miftahul Menyambut Maba

Cerita tadi dikarang oleh Pudi karena sebelumnya ada maba yang mengirim pesan ke Akun LINE@ Pesan Bosan Undip lalu viral. Pesan yang disampaikan maba adalah keluhan karena tugas makrab. Pesan tadi menyebar sampai ke berbagai fakultas lain dan lembaga pendidikan tinggi lainnya seperti UGM, UI, IPB, Unair, UB, bahkan sampai USU. Pesan berisi keluhan tadi bukannya membuat bangga, malah membuat malu para mahasiswa Sastra Indonesia Undip. Seolah-olah mahasiswa sasindo itu lemah dan cengeng.

Nouval Memantau Maba

Pudi kemudian menggiring kasus ini sebagai pembelajaran. Jika dipikir lebih dalam lagi, sebenarnya semua permasalah bisa diselesaikan dengan ngobrol yang beretika. Maksudnya bagaimana?

Ini Nilai Moralnya

Entah masalah itu berupa instruksi presiden atau tugas panitia, tidak seharusnya langsung dibawa ke ranah publik. Semua bisa diobrolkan secara personal lebih dulu. Semua ada proses dan tingkatannya. Apabila secara personal belum selesai, bisa membawa pihak ketiga sebagai penengah. Lalu masalah bisa dibawa ke orang yang lebih tua. Bila semuanya mentok, baru bawa masalah ke publik agar selesai.

Ngobrol juga tidak bisa dengan marah-marah atau pikiran negatif. Ngobrol harus beretika. Jangan seperti kasus kurir yang belakangan ini terjadi. Seorang bapak kurir dimarahi dan dibentak dengan kata-kata kasar hanya karena kardus penerima barang sobek sedikit. Akhirnya orang yang memarahi malah dipersekusi oleh para netizen karena caranya yang tidak beretika.

Niat penerima barang mengupload ke publik adalah agar mendapat dukungan untuk menyalahkan kurir tapi malah dipersekusi dan memalukan diri sendiri. Untuk kasus Sasindo di PBU bukan cuma memalukan diri sendiri, malah ikut memalukan nama jurusan. Agar kejadian memalukan seperti ini tidak terulang kembali, kami membuat sebuah hipotesis. Bagaimana caranya?

Ngobrol Dapat Menyelesaikan Banyak Masalah

Bila melihat ke angkatan-angkatan sebelumnya, kasus yang memalukan Sasindo Undip tidak hanya terjadi sekali, tapi berkali-kali. Menurut hasil pengamatan dan diskusi kami, orang-orang yang memalukan tersebut memiliki masalah yang mirip yaitu teman dekatnya sedikit. Selain teman dekatnya sedikit, biasanya orang yang memalukan tadi bisa dibilang aneh atau freak. Entah karena freak lalu tidak punya teman atau karena tidak punya teman lalu freak.

Akibat dari teman dekat yang sedikit ini, kami menduga orang ini tidak punya teman curhat. Kadang ada teman curhat tapi teman curhatnya pergi karena dapat teman baru atau pacar baru. Setelah teman curhatnya pergi, orang ini jadi tidak punya teman curhat dan stress.

Aku pernah menonton atau membaca sebuah trik survival atau bertahan hidup. Untuk menjaga kewarasan di alam liar, manusia harus membuat teman imajiner. Misalnya dalam film Cast Away yang diperankan oleh Tom Hanks, tokoh survivor membuat teman imajiner dari bola voli yang dicap dengan darah dan digambar menjadi wajah. Teman adalah obat stress paling mujarab. Tanpa teman, orang bisa sakit jiwa.

Selain menyelesaikan masalah kesehatan jiwa, ngobrol yang beretika ternyata dapat menyelesaikan malah ekonomi. Apabila kita sedang ada malah ekonomi alias kantong kering, kita bisa ngobrol ke teman kita untuk utang. Kalau dipikir lagi, ngobrol bisa menyelesaikan masalah sosial, politik, kemanusiaan, dan lain-lain. Tapi tidak akan aku jelaskan lagi karena postingan ini sudah 1.000 kata lebih.

Enaknya bahasan ini kita bicarakan lebih lanjut sambil ngobrol yang beretika. Ngobrol itu enaknya sambil ngopi, yang nggak suka ngopi bisa nyusu. Di mana? Ya di @paktungtembalang lah!

Gallery Image of Tidak Ada Nilai Moralnya

Ini sticky