opini

7 Posts Back Home

Tidak Ada Nilai Moralnya

Setiap tahun, mahasiswa Sastra Indonesia (Sasindo) Undip mengadakan yang biasa disebut makrab atau malam keakraban. Namanya kadang berganti bukan makrab, seperti tahun ini misalnya namanya jadi kemah bakti. Padahal ya acaranya hampir sama setiap tahun. Lokasi makrab selalu di Barak Militer Bantir, Sumowono, Semarang, Jawa Tengah. Entah sejak kapan, yang jelas sudah 5 tahun lebih di sana. Jadi, secara turun-temurun kami menyebut acara ini Makrab Sasindo di Bantir. Yang menjadi panitia makrab adalah mahasiswa semester 3 dan yang menjadi peserta makrab adalah mahasiswa semester 1. Kalau dulu acara ini termasuk LKMMPD (LKMM Pra Dasar) tapi sepertinya sejak beberapa tahun yang lalu dipisah karena aturan kampus. Inti kegiatan ini adalah mengenalkan mahasiswa semester 1 atau sering disebut maba (mahasiswa baru) kepada teman-teman angkatannya sendiri, kakak tingkat, dan lingkungan jurusan atau program studi. Intinya agar saling mengenal lah. Pada tahun ini, aku termasuk angkatan 2013 (yang belum juga lulus). Aku dengan peserta…

5 Tahun Belum Lulus: Cara Menjadi Mahasiswa Gagal

Saat banyak mahasiswa sudah lulus, bekerja, atau bercinta secara halal, masih ada mahasiswa yang kuliahnya entah sampai mana. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, penulis kemudian berpikir tentang 5 tahun ke belakang. Apa saja dosa yang pernah penulis lakukan selama ini? Berdasarkan pengalaman penulis dan pengalaman teman-teman penulis, inilah cara menjadi mahasiswa gagal. Apa saja faktor-faktor yang mendukung kegagalan seorang mahasiswa? Mari kita mulai dari awal kuliah. Penulis mencoba menjabarkan secara kronologis dan semoga tidak anakronis. Ya, ini tulisan serius. Gagal memilih jurusan. Ini adalah kegagalan ketika SMA, bahkan salah jurusan bisa jadi bermula dari SMP. Kok bisa? Dari SMP sudah harus menentukan mau sekolah di SMA, SMK, atau sekolah aneh lainnya. Keputusan yang diambil tidak bisa diubah setelah tidak betah. Mau tidak mau harus lanjut atau ngulang lagi dari level satu. Selanjutnya ketika SMA diberi pilihan jurusan. Ada jurusan IPA, IPS, Bahasa, Agama, Olahraga, Multimedia, Rekayasa Perangkat Lunak, dan jurusan aneh…

Efek Negatif Jam Digital yang Tidak Terduga

Sebagai seorang pecinta teknologi digital, aku hampir tidak punya jam analog selain jam dinding yang sudah rusak. Aku selalu mengandalkan jam digital yang ada di smartphone atau laptop. Enaknya kalo di smartphone yaitu ketika pindah zona waktu tidak usah setting lagi, otomatis ganti jam. Padahal aslinya ya aku gak kuat beli jam analog. Wkwkwk. Ada juga banyak keunggulan lain dari jam digital yang numpang di Android atau di Windows ini. Satu di antaranya yaitu menunjukkan sampai ke menit secara akurat. Berbeda dengan jam analog yang harus mengira atau membulatkan dengan hitungan 5 menit. Itu juga harus setting sendiri yang kadang kelewat cepat atau kelewat lambat. Jam digital juga baterainya numpang, jadi nggak perlu ganti atau service baterai. Tentu masih banyak keunggulan lain yang tidak usah disebutkan karena aku bukan tukang reparasi jam atau tukang jualan jam. Tapi ternyata ada efek negatif dari jam digital yang baru-baru ini kutemukan. Jam digital…

Kerja Sambil Tidur?

Manusia tidak bisa kerja sambil tidur. Begitu juga sebaliknya, manusia tidak bisa tidur sambil kerja. Tapi ada hal yang menarik di antara kata kerja dan kata tidur. Seperti yang aku temukan di halaman moto dan persembahan dalam skripsi temanku, @irmnhdyt. “Aku tidak terlalu peduli pada uang hingga harus berjuang demi mendapatkannya. Menurutku, fakta bahwa di dunia ini terdapat begitu banyak pekerjaan sungguh memalukan. Satu yang paling menyedihkan ialah bahwa satu-satunya hal yang bisa dilakukan seseorang selama delapan jam dalam sehari, hari demi hari, adalah bekerja. Kau tidak bisa makan selama delapan jam sehari atau minum selama delapan jam sehari atau bercinta selama delapan jam–yang bisa kau lakukan selama delapan jam hanyalah bekerja. Itulah kenapa manusia membuat dirinya sendiri dan orang lain sengsara dan tidak bahagia.” (William Faulkner) Setelah membaca quote dari William Faulkner yang dipopulerkan oleh Irman Hidayat, kata kerja menjadi menarik bukan? Sekarang coba perhatikan Satruk Quote yang dipopulerkan…

Review Silky Pudding by Smooch Ice

Smooch Ice adalah sebuah brand produsen makanan dan minuman segar yang dilahirkan oleh kakak tingkatku di kampus. Satu produk andalannya yaitu silky pudding. Apa itu silky pudding? Silky pudding menurutku artinya adalah puding yang licin. Arti secara harfiahnya adalah puding halus. Tentu kalian sudah pada tau apa itu puding. Puding adalah dessert atau makanan penutup atau makanan pencuci mulut yang terbuat dari bahan-bahan tertentu utamanya tepung atau agar-agar. Dari bentuknya, Silky Pudding memiliki 2 versi yaitu versi botol dan versi cup. Versi botol memiliki keunggulan mudah dibawa ke mana-mana dan bisa langsung dinikmati dengan cara disedot. Sedangkan versi cup bisa dikreasikan lagi dengan menaruhnya di piring atau mangkok. Rasanya bagaimana? Mantab sekali. Silky Pudding buatan Smooch Ice memiliki 11 varian rasa. Begitu masuk mulut terasa halus dan manisnya pas di lidah. Puding yang lembut terasa lancar dan licin ketika ditelan. Rasanya nikmat sekali. Cocok untuk Indonesia yang beriklim tropis terutama…

Islam yang Tidak Memandang Golongan

Saya lahir di Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Di sana saya tidak pernah mendapat pertanyaan tentang Islam golongan apa saya. Masyarakat di sana paling pol tanya, “Agamamu apa?” Paling pol itu. Pada kenyataanya jarang sekali orang di sana menanyakan tentang agama. Saya ngaji di Sokaraja di tiga lokasi berbeda. Pertama di rumah guru ngaji, kedua di madrasah dekat pertigaan, ketiga di mushola. Eh empat ding. Keempat di madrasah agak jauh. Seingat saya, dulu saya tidak pernah diajari, “Kamu Islam itu. Kamu Islam ini.” Yang saya tahu cuma Islam itu ya belajar ngaji, sejarah nabi, tata cara beribadah, dll. Walaupun depan rumah saya orang-orang bilang LDII yang kalo masuk rumahnya trus habis itu dipel, saya tetap bermain dengan anaknya dan pernah sekali masuk ke rumahnya. Saya tidak tau habis itu dipel apa enggak sih. Sedangkan teman-teman saya yang lain saya tidak tau mereka Islam apa. Seperti saya ini. Kemudian kelas 2 SD saya…

4 Syarat Tempat Makan Enak

Makan menjadi urusan yang penting bagi kita. Makan tidak hanya mempunyai fungsi mengenyangkan perut untuk kesehatan. Akan tetapi makan juga bisa berfungsi sebagai gaya hidup bahkan hiburan tersendiri bagi orang-orang tertentu. Termasuk saya. Saya punya 4 syarat tersendiri suatu tempat makan bisa dikatakan enak. Syarat-syarat ini muncul karena hobby saya berpindah-pindah tempat makan dan selalu ingin makan di tempat yang belum pernah saya kunjungi. Berikut ini syarat dari saya: 1. Makananannya Enak Sudah jelas bahwa setiap orang pengen makan enak. Termasuk saya. Tapi selera orang berbeda-beda. Alhamdulillah saya termasuk orang yang bisa makan apa saja asal enak. Saya tidak punya alergi atau ketakutan makan di tempat tertentu. Karena ada yang tidak mau makan di warteg, ada. Ada yang tidak mau makan di warung padang, ada. Ada yang tidak mau makan di KFC, ada. 2. Tempatnya Enak Tempat juga merupakan hal yang penting saat makan. Hal yang paling utama adalah bersih,…

Navigate