islam

3 Posts Back Home

Kerja Sambil Tidur?

Manusia tidak bisa kerja sambil tidur. Begitu juga sebaliknya, manusia tidak bisa tidur sambil kerja. Tapi ada hal yang menarik di antara kata kerja dan kata tidur. Seperti yang aku temukan di halaman moto dan persembahan dalam skripsi temanku, @irmnhdyt. “Aku tidak terlalu peduli pada uang hingga harus berjuang demi mendapatkannya. Menurutku, fakta bahwa di dunia ini terdapat begitu banyak pekerjaan sungguh memalukan. Satu yang paling menyedihkan ialah bahwa satu-satunya hal yang bisa dilakukan seseorang selama delapan jam dalam sehari, hari demi hari, adalah bekerja. Kau tidak bisa makan selama delapan jam sehari atau minum selama delapan jam sehari atau bercinta selama delapan jam–yang bisa kau lakukan selama delapan jam hanyalah bekerja. Itulah kenapa manusia membuat dirinya sendiri dan orang lain sengsara dan tidak bahagia.” (William Faulkner) Setelah membaca quote dari William Faulkner yang dipopulerkan oleh Irman Hidayat, kata kerja menjadi menarik bukan? Sekarang coba perhatikan Satruk Quote yang dipopulerkan…

Terimakasih 2017 (Bagian 2)

Halo. Apa kabar? Akhirnya setelah tertunda 19 hari, aku bisa ngupdate blog ini lagi. Mohon maaf habis ngepost kemarin langsung dihajar kesibukan KKN. Buat yang baru gabung, ini adalah tulisan lanjutan dari tulisan kemarin Terimakasih 2017 (Bagian 1). Mendingan baca itu dulu baru baca tulisan ini. Gak usah basa-basi lagi, mari kita lanjut mereview tahun kemarin! Mei 2017 Tahun kemarin aku memutuskan untuk membeli Green Screen yang sampai saat ini belum kugunakan sama sekali untuk bikin sesuatu yang kreatif. Aku membeli pipa paralon dengan @rihadhanandar kemudian dia juga yang punya akal buat masang pake leher botol air mineral di tembok. Bingung buat apa, aku pakai saja sebagai tempat foto. Dan inilah hasil karya fotografer BlackBerry @pudijaya. Pertengahan bulan Mei 2017 aku dikabari teman mondok dulu kalau teman kami yang dari Malaysia lagi ada acara di Magelang. Akhirnya aku meluncur pulang ke Magelang. Namanya Urwah Assayuti, orang Malaysia keturunan India. Terakhir…

Islam yang Tidak Memandang Golongan

Saya lahir di Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Di sana saya tidak pernah mendapat pertanyaan tentang Islam golongan apa saya. Masyarakat di sana paling pol tanya, “Agamamu apa?” Paling pol itu. Pada kenyataanya jarang sekali orang di sana menanyakan tentang agama. Saya ngaji di Sokaraja di tiga lokasi berbeda. Pertama di rumah guru ngaji, kedua di madrasah dekat pertigaan, ketiga di mushola. Eh empat ding. Keempat di madrasah agak jauh. Seingat saya, dulu saya tidak pernah diajari, “Kamu Islam itu. Kamu Islam ini.” Yang saya tahu cuma Islam itu ya belajar ngaji, sejarah nabi, tata cara beribadah, dll. Walaupun depan rumah saya orang-orang bilang LDII yang kalo masuk rumahnya trus habis itu dipel, saya tetap bermain dengan anaknya dan pernah sekali masuk ke rumahnya. Saya tidak tau habis itu dipel apa enggak sih. Sedangkan teman-teman saya yang lain saya tidak tau mereka Islam apa. Seperti saya ini. Kemudian kelas 2 SD saya…

Navigate