✕ Close

Begini Rasanya Perjalanan 24 Jam di Kapal Legundi

Di tulisan backpacker-an murah ke Lombok kemarin, banyak yang menanggapi tentang lamanya di kapal. Aku menulis sekitar 20-23 jam di dalam kapal. Tapi pada prakteknya ternyata mencapai kurang lebih 24 jam. Gimana rasanya 24 perjalanan di Kapal Legundi?

Kuat gak ya seharian terombang-ambing di lautan? Begitulah kira-kira pertanyaan yang terlintas di kepala. Beginilah kira-kira jawabannya…

Suasana Kapal Legundi

Saat pertama kali memasuki kapal ini aku agak tergesa dan bingung karena petunjuk yang tertempel tidak sesuai. Misalnya ada ruang ekonomi dan ruang VIP. Beruntung sebelumnya kami berkenalan dengan 2 orang yang satu tujuan dengan kami, yaitu pendaki gunung Rinjani. Mereka adalah Azmi dan Evan.

Azmi dan Evan sebelumnya juga sudah kenalan dengan Mas Yang Aku Lupa Namanya. Kata Mas Yang Aku Lupa Namanya itu berkata bahwa tidak ada kelas penumpang karena satu kapal itu kelas ekonomi semua. Penumpang bebas memasuki dan menduduki bagian mana saja yang disukai asal belum keduluan.

Ruang ekonomi dipenuhi kursi dan meja yang berderet. Sedangkan ruang VIP beralas karpet dengan sofa dan meja. Ruang ekonomi sangat luas seperti berada di perut atau badan kapal. Sedangkan ruang VIP agak kecil seperti kepala kapal. Di ruang VIP dapat melihat langsung ke area luar  yaitu bagian depan kapal karena ada kaca besar bermeter-meter.

Aku memilih untuk meletakkan barang di dekat jendela kaca besar tadi. Tempatnya yang lesehan enak juga buat tidur. Kami hanya kebagian tempat itu di ruang VIP karena sangat cepat terisi. Lebih baik masuk kapal awal-awal agar bisa memilih tempat di ruang VIP.

Sekilas Tentang Kapal Legundi

Kapal Legundi awalnya adalah Kapal Motor Penyeberangan (KMP) atau biasa disebut kapal feri. Kapal ini bertugas di Merak-Bakauhuni. Katanya karena terkena efek “Tol Laut Jokowi”, kapal ini dipindahtugaskan ke Surabaya-Lombok.

Banyak yang mengira Kapal Legundi hanyalah seperti kapal penyeberangan biasa yang ukurannya gak seberapa. Padahal ukuran sebenarnya lumayan besar. Mampu menampung sekitar 1.000 penumpang. Kapal ini ada 4 lantai kalau gak salah. Dua lantai paling bawah untuk kendaraan. Dua lantai di atasnya untuk manusia.

Lantai paling bawah untuk kendaraan seperti truk, lantai atasnya untuk kendaraan pribadi seperti mobil dan motor. Lantai atasnya barulah lantai untuk menampung penumpang. Lantai atasnya lagi ada cafetaria, mushola, ruang penyimpanan boat penyelamat, dan ruang rahasia yang tidak bisa kami lewati. Sedangkan bagian atas sendiri ada helipad. Lumayan keren kan Kapal Legundi ini?

Fasilitas Kapal Legundi

Fasilitas yang cukup penting dari kapal ini adalah kamar mandi. Sekitar pukul 11 pagi @ilhamnyaarya mandi karena dari sejak kemarin sore sampai tadi pagi di Surabaya belum mandi. Ilham berubah jadi keliatan segar. Aku jadi pengen mandi. Setelah beberapa penundaan, sekitar pukul setengah 1 aku mandi.

Ada 4 bilik kamar mandi kapal untuk penumpang ukurannya sangat kecil. Hanya sekitar 1 x 1 meter dengan isi ember dan closet jongkok. Meski begitu kamar mandinya bersih dan terawat. Begitu keran dinyalakan, terdengar suara pompa yang aneh dan berisik. Posisi mandi juga jadi serba salah, kejedot sana-sini. Gerak dikit mentok, gerak banyak apalagi. Hahaha. Beruntungnya aku bisa melewati semua itu.

Fasilitas lainnya yang lumayan penting yaitu musholla atau tempat sholat. Berlokasi di lantai tiga, di sebelah cafetaria kapal, ukurannya lumayan luas. Ada kamar mandi dan tempat wudu yang lumayan memadai. Uniknya musholla ini adalah letak kiblat yang selalu berpindah mengikuti arah kapal. Juga ada dua jam dinding versi WIB dan WITA.

Seperti yang sudah kusebutkan, ada cafetaria di sebelah musholla. Bisa dibilang cafetaria letaknya berada di bokong kapal. Lokasinya cocok untuk menikmati sunset atau sunrise sambil ngopi atau ngeteh. Pemandangan laut dan angin yang kencang merupakan pengalaman baru bagiku. Harga minumannya juga masih masuk akal, seharga minuman di cafe hipster di kota besar. Kami menikmati sunset sambil ngobrol dengan penumpang yang tidak kami kenal.

Ada pengumuman mengenai pembagian makanan beberapa saat setelah sunset. Tiket penumpang berlaku sebagai kupon makan. Tempat pengambilan makan berada di belakang cafe kecil di ruang ekonomi. Kami menerima makanan dalam kemasan styrofoam dan segelas air mineral. Isinya lumayan lengkap dengan porsi irit, rasanya juga tidak bisa diharapkan. Selain itu, rasa air mineralnya juga agak aneh meskipun dalam kemasan gelas plastik.

Setelah kenyang makan tentu saja tidak ada kegiatan menarik selain tidur. Aku merebahkan badan sejajar dengan penumpang lain di ruang VIP. Posisi tidur membuatku merasakan sedikit goyangan kapal melawan ombak. Kupasang earphone di kupingku lalu mendengarkan musik pengantar tidur.

Menikmati Sunrise di Kapal Legundi

Kami bangun pagi untuk sholat subuh lalu dilanjutkan dengan menikmati sunrise sambil ngopi di cafetaria. Karena pagi banget makanan belum siap, aku memesan sebuah mie cup. Benar-benar pagi yang sempurna. Tidak terbayangkan akan terjadi kalau naik bis dari Banyuwangi ke Lombok. Hahaha.

Setelah agak siangan dikit, kami jalan-jalan mengelilingi kapal. Tentu saja tidak banyak tempat yang kami jelajahi. Kami hanya bisa jalan-jalan di sekitar cafetaria atau ke samping musholla. Di dua sisi kapal masing-masing ada 1 skoci yang kira-kira dapat menampung sekitar 20 orang. Di tengahnya (yang berdempetan dengan musholla) ada ruang kosong mungkin tempat menyimpan alat penyelamatan.

Ke sudut jalan samping kapal ada tangga ke lantai paling atas sendiri. Lantai paling atas sendiri ada helipad dan ada ruangan kecil yang mungkin untuk nahkoda kapal. Itu yang kumaksud ruang rahasia. Ruangan yang aku tak boleh masuk dan tak tau apa isi di dalamnya.

Setelah puas jalan-jalan dan foto-foto kami sarapan. Sarapan yang disediakan pihak kapal juga sangat sederhana. Lumayanlah buat isi perut. Setelah sarapan aku tidur lagi sampai agak siang.

Sekitar pukul 11 WITA kapal sudah mendekati pulau Lombok. Aku dan Ilham siap-siap untuk turun. Sekitar pukul 12 siang kapal berlabuh di Pelabuhan Lembar. Kami turun dari ruang penumpang dengan membawa tas carrier besar. Kami juga bertemu dengan orang baru yang membawa tas carrier besar. Kami berkenalan, namanya Israel Putra. Orang yang akan kami banyak sebut di cerita selanjutnya.

Kesimpulan

Perjalanan yang memakan waktu sekitar 24 jam dapat menimbulkan kebosanan. Untungnya fasilitas di Kapal Legundi lumayan memadai. Aku bisa mandi, jalan-jalan, foto-foto, menikmati pemandangan, makan, minum, dan kadang masih ada sinyal buat internetan. Cara paling jitu untuk menghindari kebosanan adalah berkenalan dan ngobrol dengan orang baru. Bisa juga dengan menikmati suasana sambil mendengarkan musik.

Sekian dan terima kasur.

Ini sticky