Mengenang 3 Tahun Pembuatan Film Origami Untuk Sherly


Notice: Undefined index: v in /home/masjangka/public_html/wp-content/themes/ampinstant/libs/shortcode/ampinstant-shortcode.php on line 165

Tak terasa 4 tahun eh 3 tahun berlalu saat proses pembuatan Film Origami Untuk Sherly. Film ini mungkin sama sekali tidak penting buat kalian. Tapi proses pembuatan film ini sangat penting bagi fase persahabatan kami, IS3 Tetap Kokoh Tetap Kuat.

Film ini menceritakan tentang pemuda yang jatuh cinta pada seorang pemudi. Tapi pemudi menolak cinta pemuda tersebut tanpa alasan yang jelas. Di akhir cerita, pemuda sukses dan mengetahui pemudi sudah meninggal karena penyakit yang diderita sejak lama. Ternyata pemudi menolak cintanya karena tidak ingin pemuda tersebut terlalu sakit hati karena dia tahu umurnya tidak lama lagi. Intinya kayak gitu lah.

Ide cerita ini sama sekali bukan dari kami anak-anak IS3. Tapi dari sebuah pemaksaan seorang guru. Hehehe. Sebelumnya kami sudah menyiapkan skenario yang ternyata di mata sang guru tidaklah menarik. Itu bukanlah pertama kali idealisme saya tidak diterima. Tapi semua harus terus lanjut. Kami sekelas mengalah.

Lanjut dengan ide cerita dari guru kami, Bu Ida. Saya akhirnya membuat sebuah Tim Penulis Skenario agar skenario film bisa dibuat lebih cepat. Di awal sebenarnya saya lah yang bertugas menulis skenario sekaligus menyutradarai. Tapi waktu tidak cukup.

Akhirnya skenario hampir jadi dan langsung aja dilakukan pengambilan gambar. Kami menyewa seorang camera person sekaligus nantinya menjadi editor yang biasa dipanggil Mas Gepenk.

Mas Gepenk dari Fat Studio

Pengambilan gambar pertama di rumah Yoyok. Selanjutnya kami menghabiskan adegan yang harus di rumah Yoyok dengan pertimbangan gak enak lama-lama numpang rumah orang buat syuting. Ada juga pengambilan gambar di desa. Kemudian pengambilan gambar dalam mobil dan naik-turun bis.

Pengambilan gambar lainnya di dinas pertanian kota Magelang. Tepat tanggal 1 Muharram tahun 2012 kalo tidak salah. Lumayan lama persiapan nunggu cewek-cewek dandan padahal dandanannya cuma gitu-gitu aja.

Pengambilan gambar lainnya di taman lansia. Lalu di pinggir jalan dekat taman lansia. Kemudian lain kesempatan pengambilan gambar di rumah Bunda Etika. Di sana bikin kuburan palsu juga. Lumayan lama pengambilan gambar dan lumayan di banyak tempat juga. Tapi akhirnya selesai.

Ada banyak yang cinlok. Tapi yang jadian cuma 3 pasang. Wkwkwk.

Saat pengeditan juga lumayan lama. Saya dan teman-teman mesti bolak-balik Magelang Salaman untuk mengedit video yang telah direkam. Saat dilihat ternyata tidak ada kesinambungan antara video yang satu dengan video yang lain. Akhirnya saat proses pengeditan juga kita masih ngambil gambar lagi agar lebih pas.

Kami juga sempat menambah adegan dengan menggunakan kamera milik Dimas Prasetyo alias Kenthank Iinginjadiibrandalan. Tapi karena kesalahan teknis (sebenarnya tertuduh kesalahan Salies tapi gak usah bilang Salies kalo kesalahannya) video yang direkam tertumpuk dengan video sekelas yang di Stadion Abu Bakrin. Jadi kamera itu kalo dimundurkan kasetnya (biasanya buat nonton video yang telah direkam) lalu buat ngerekam lagi bisa ketumpuk dan video sebelumnya hilang.

Jadilah film itu hanya menggunakan video hasil dari rekaman Mas Gepenk saja. Untuk mengantar penonton dari adegan satu ke adegan lain akhirnya diputuskan untuk memberi narasi. Dan jadilah Muthik sebagai narator.

Begitulah proses pembuatan video sampai akhirnya berhasil dirender lalu dikemas dalam bentuk DVD. Ada juga yang hasil sebelumnya yang salah opening. Yaitu bagian yang menerangkan bahwa ini tugas sosiologi tapi ditulis tugas Bahasa Indonesia. Nah video inilah yang saya upload ke Youtube.

Tentu saja pas editing saya tanya musik apa saja yang mau dipake. Banyak usulan. Ternyata lagunya banyak mengandung copyright. Jadinya di Youtube banyak iklannya. Yang untung tentu saja para musisi dan label yang menaungi mereka. Bukan saya.

Seperti yang sudah saya sebut sebelumnya, film ini sebenarnya merupakan sebuah tugas mata pelajaran sosiologi di kelas XII IPS SMA Muhammadiyah 1 Kota Magelang. Artinya semua kelas IPS membuat film. Tapi di akhir ternyata film kami lah yang paling panjang dan paling mendingan. Wkwkwk.

Itulah kenangan saya saat menjadi sutradara sotoy dan ngawur. Saat saya masih SMA dulu. Saya sebenernya pengen lanjut bikin film lagi. Minimal film pendek aja gak papa bareng temen-temen yang dulu bikin Film Origami Untuk Sherly. Film yang dibuat lebih serius dan lebih berkualitas. Semoga saja suatu saat bisa terwujud. Aamiin.

*Terbit pertamakali di cintadamai.com lalu dipindah ke sini.