Mengenal Patung Sura dan Baya, Ikon Kota Surabaya yang Sarat akan Cerita

Mendengar Surabaya pasti sekaligus juga akan langsung teringat pada ikon kota Surabaya yakni Patung Sura dan Baya. Namun ketika menyinggung ikon itu juga, kamu tentu pernah penasaran mengapa kedua hal itu bisa menjadi ikon kota Surabaya.

Nah, agar lebih jelas, simak yuk, mengapa ikon Surabaya bisa dari Patung Sura dan Baya.

Ikon Kota Surabaya Patung

Dibangun di Dua Lokasi

Patung Sura dan Baya dibangun di dua lokasi, yakni di Bundaran Jl. Tanjung Priok dan di Bantaran Sungai Kalimas atau yang lebih tepat di Taman Skate and Board Jl. Ketabang Kali.

Di tempat ini juga dekat dengan sejumlah destinasi wisata, seperti Kebun Binatang Surabaya, Tugu Pahlawan, Monumen Kapal Selam Wisata Hutan Mangrove Wonorejo, Ciputra Waterpark, Jembatan Suramadu, dan masih banyak yang lainnya.

Patung ikon Surabaya ini terbuat dari bahan dasar batu bata, pasir, hingga semen. Nggak ada ornamen penghias lainnya memang, namun di sinilah yang justru menggaambarkan jika patung ini memang sederhana. Pembuat patung ini adalah  Sigit Margono, seorang seniman patung sekaligus dosen dari Sekolah Tinggi Kesenian Wilwatika (STKW Surabaya).

Risma Bikin Patung Baru

Pada 29 Mei 2019, Walikota Surabaya Tri Rismaharini meresmikan Patung Sura dan Baya yang baru. Kali ini letaknya di Taman Suroboyo yang ada di daerah pesisir arau tepatnya di Jl. Pantai Kenjeran, Kedung Cowek, Kec. Bulak.

Patung Sura dan Baya yang baru ini punya tinggi 25,6 meter. Dudukan patung di bawahnya punya tinggi 5 meter dan berdiamater 15 meter.

Patung Sura dan Baya yang baru ini memiliki bentuk unik berupa hiasan rumput laut yang mengelilingi Sura dan Baya. Selain membuat perbedaan dengan patung-patung lain, secara estetik rumput laut tersebut dinilai akan menambah efek dramatis dari kisah Sura dan Bya sendiri.

Pembuatan patung ini selain untuk menghias Taman Suroboyo, menurut Risma juga agar bisa menarik wisatawan dan mendongkrak perekonomian warga.

Warga di sini sudah mulai terasa, saya berharap ini bisa mensejahterakan warga. Namun tidak lupa kita harus kerja keras, harus ramah dan warga daerah sini juga harus menjaga kebersihan," kata Risma.

Jadi Pembentuk nama “Surabaya”

“Sura dan “Baya” tadi kelak menjadi nama kota. Keduanya adalah nama hewan, yakni dimana Sura sebagai ikan hiu dan Baya sebagai buaya. Penamaan itu tentunya nggak asal, ada cerita bersejarah yang melingkupinya, bahkan ada dua versi.

Versi pertama, nama Surabaya berasal dari perkelahian hidup dan mati antara Sawunggaling yang menguasai ilmu Sura dan Adipati Jayengrono yang menguasai ilmu buaya. Namun lebih banyak versi merujuk pada kisah perkelahian antara ikan hiu Sura dan Buaya yang saling berebut mangsa.

Ketika berkelahi, ekor Sura hampir putus karena digigit Buaya. Sementara Buaya sendiri juga nggak kalah babak-belur dengan pangkal ekor sebelah kanan yang juga hampir putus karena digigit oleh Sura. Namun kendati bertarung sengit, keduanya tetap hidup dan selamat dari bahaya.

Nah, dari kata terakhir itulah muncul inspirasi untuk menamai  Surabaya. Sura bisa diartikan sebagai selamat atau jaya. Kemudian Baya, artinya adalah bahaya. Lalu jika keduanya digabung menjadi “selamat menghadapi bahaya”.

Jadi seperti sejarah singkat mengenai Patung Sura dan Baya yang menjadi ikon Kota Surabaya. Secara arti pun tampaknya relevan sekali dengan catatan sejarah Surabaya yang banyak selamat dari berbagai macam mara bahaya selama masa perjuangan di zaman kolonial ya.

Kalau kamu penasaran dengan kedua patung tersebut, maka datanglah ke Surabaya dan abadikan momen. Saat sampai di lokasi pun kamu nggak perlu khawatir, sebab di sana aka nada banyak akses mulai dari penerbangan hingga transportasi darat. Begitupula untuk penginapan, ada banyak hotel di Surabaya yang siap menerima.

Bagikan
Berikan Apresiasi

Join Telegram Yuk! >>

KLIK DI SINI