Ketika Jangka Galau Mau Kuliah atau Fokus Bisnis

Tepat setahun yang lalu saya menggalaukan masalah ini. Saya sudah bertekad untuk tidak kuliah dan menceritakan alasan-alasan kepada orang-orang yang perhatian dengan saya. Tapi banyak yang menginginkan saya untuk lanjut kuliah. Lalu bagaimana akhirnya?

Sebenarnya niat saya tidak kuliah adalah agar bisa fokus terhadap bisnis saya. Saya berpikir bahwa kuliah nantinya akan mengganggu bisnis saya. Tapi pikiran saya lama-lama berubah semenjak bertemu hal-hal berikut ini.

1. Sebuah artikel di StartupBisnis.com

Saya belajar banyak di StartupBisnis.com terutama tulisan mengenai bisnis online dan enterpreneurship. Entah kenapa saya nyasar di artikel berjudul “Bagaimana Young Entrepreneur Me-Manage Karyawan“. Di artikel itu dikisahkan ada seorang anak kelas 3 SMA yang mempunyai karyawan. Dan karyawannya yang lebih tua sering melanggar peraturan.

Lalu ada saran dari Tyohan dari Hackerspace Bandung yang kurang lebih begini:

“Lulus kuliah adalah hal yang penting untuk entrepreneur. Karena sebagai entrepreneur, akan penting untuk membangun partnership dengan pihak lain yang bonafit, sering kali calon partner kita saat ngobrol-ngobrol menanyakan “kamu kuliah di mana?” akan berbeda mimik wajahnya ketika kita menjawab “kuliah di ITB” dengan “kuliah di Universitas Maju Mundur” hal penting lainnya dari universitas adalah belajar bertanggung jawab dan membangun mindset sebagai seorang profesional entrepreneur.”

Setelah membaca itu sepertinya akan lebih keren jika saya kuliah. Daripada saya jawab di rumah bisnis online karena bisnis online itu luas dan kurang jelas. Juga lebih gampang ketika ditanya kuliah di mana, jurusan apa, selesai.

2. Saya diterima SNMPTN jalur undangan

Tidak sesuai harapan saya, ternyata saya diterima di sebuah Universitas di Semarang dengan nama Universitas Diponegoro. Universitas negeri yang lumayan terkenal walaupun saya sendiri sebelumnya tidak tahu universitas ini. Saya sangat tidak peduli dengan dunia universitas ketika itu.

Ternyata banyak juga yang berharap masuk di universitas ini. Saya bisa dianggap sombong jika mengabaikan undangan ini. Dan bahkan sampai terbawa mimpi. Saya juga bisa dianggap tidak bersyukur. Tanpa tes bisa masuk.

Saya juga diterima di jurusan Bahasa & Sastra Indonesia. Sebuah jurusan yang kata orang termasuk jurusan yang santai. Bukan jurusan yang pusing-pusing. Jurusan ini juga sesuai dengan minat saya pada dunia kepenulisan. Tampaknya Tuhan memang telah merencanakan semua ini.

Setelah diterima dengan jalur tanpa ribet saya kembali merenungkan untuk kuliah.

3. Chatting dengan teman pebisnis internet di facebook

Dengan kegalauan saya, akhirnya saya mencoba untuk chatting dengan teman-teman saya di facebook. Tapi ada satu teman saya yang membuat saya kembali berpikir untuk lanjut kuliah.

Dia bilang gini di chatting.

“gampang kok sob kita islam,, 5 waktu + sedekah + tahajud ( kalau kebangun :v) + dhuha,,nah yg pling penting 5 waktu sama berbakti ke org tua,,trutama dan special sama Ibu,, insya’llah aman kita dunia akhirat:)”

“ane yakin,,ente bisa jalan ke duanya sob”

“mikirnya sih gini,,biar gmnapun keduanya penting,,jd ya kembali ke diri kitalah,,kita yg ngatur waktu”

“setiap pilihan ada resiko masing2 kok:)”

“nyenangin org tua juga jk kuliah,,bangga dia ,,anaknya sarjana,,trs punya usha sndiri,,walupun kecil”an”

Ya begitulah. Saya jadi teringat ibu saya. Dia yang ingin sekali anaknya untuk lanjut kuliah. Setelah chatting, saya kembali merenung.

4. Negosiasi dengan orang tua

Orang tua sangat lunak dengan saya. Bahkan saya merasa memiliki orang tua terbaik di dunia. Orang tua saya membebaskan saya kuliah di manapun dengan jurusan apapun. Yang penting kuliah.

Orang tua saya juga membolehkan saya untuk mengendurkan kuliah jika mengganggu bisnis. Bahkan saya disarankan cuti. Kuliah hanya sampingan. Yang penting kuliah. Mungkin karena saya memang sama sekali tidak tertarik kuliah waktu itu.

Setelah berbicara lama dengan orang tua, saya kembali merenung. Kuliahnya bisa nyante kok.

Itulah sebenarnya pondasi-pondasi kenapa akhirnya saya mau kuliah. Ada banyak alasannya. Poin-poin di atas memang bukanlah turning point. Turning point akan saya ceritakan lain kali jika sempat.

Yah begitulah saya setahun yang lalu, Bro, Sis. Semoga pengalaman saya bisa bermanfaat terutama kepada teman-teman yang galau. Dan ternyata ini kategori pertama untuk Jangka. Karena saya berniat untuk menghidupkan cintadamai.com saja tanpa punya blog pribadi.

Thanks for reading!

*Di foto yang mahasiswa itu saya yang nengok ke kanan.

**Terbit pertamakali di cintadamai.com lalu dipindah ke sini.