Islam yang Tidak Memandang Golongan

Saya lahir di Sokaraja, Kabupaten Banyumas. Di sana saya tidak pernah mendapat pertanyaan tentang Islam golongan apa saya.

Masyarakat di sana paling pol tanya, “Agamamu apa?”

Paling pol itu. Pada kenyataanya jarang sekali orang di sana menanyakan tentang agama.

Saya ngaji di Sokaraja di tiga lokasi berbeda. Pertama di rumah guru ngaji, kedua di madrasah dekat pertigaan, ketiga di mushola. Eh empat ding. Keempat di madrasah agak jauh.

Seingat saya, dulu saya tidak pernah diajari, “Kamu Islam itu. Kamu Islam ini.”

Yang saya tahu cuma Islam itu ya belajar ngaji, sejarah nabi, tata cara beribadah, dll.

Walaupun depan rumah saya orang-orang bilang LDII yang kalo masuk rumahnya trus habis itu dipel, saya tetap bermain dengan anaknya dan pernah sekali masuk ke rumahnya. Saya tidak tau habis itu dipel apa enggak sih. Sedangkan teman-teman saya yang lain saya tidak tau mereka Islam apa. Seperti saya ini.

Kemudian kelas 2 SD saya pindah ke Kabupaten Magelang. Di Magelang saya juga ngaji di 3 lokasi. Kalo agak sore ke TPA yang diasuh Bu Fah. Kalo agak malem ke Pondok yang diurus mas-mas pondok.

Saya tinggal persis di seberang jalan depan rumah kiyai. Kalo saya sih nyebutnya Pak Dur. Namanya Abdurrahman Chudory kalo gak salah. Berdekatan dengan Asrama Perguruan Islam Tegalrejo, Magelang. Pondok tempat mantan presiden Gus Dur (Abdurrahman Wahid) belajar dulu.

Acara halal bi halal salah satu keluarga besar saya di Tegalrejo

Di Tegalrejo tentu saja kental dengan suasana NU. Tapi di sana saya tidak ditanya saya Islam golongan apa.

Kemudian saya pindah ke Cawangan, Desa Wonosuko, masih kecamatan Tegalrejo. Saya sudah tidak belajar mengaji lagi di pondok setiap habis magrib. Tapi saya ngaji di madrasah di Wonosuko setiap sore. Kemudian berhenti karena kelas 6 SD lebih sering les pelajaran sekolah ke Pak Budi di Desa Gentan.

Saat SMP saya tinggal di asrama di sebuah SMP Islam Terpadu di Pabelan, Mungkid, Magelang. Di sana saya juga tidak ditanya saya Islam golongan apa. Bahkan sampai kelas 9 saya masih kurang paham apa itu sunni apa itu syiah.

Kemudian saya melanjutkan sekolah ke pondok pesantren Husnul Khotimah di Kuningan, Jawa Barat. Saya juga tidak ditanya saya Islam golongan apa. Walaupun akhirnya saya pindah sekolah ke Magelang lagi dan terdampar di SMA Muhammadiyah 1 kota Magelang.

Barulah saya ditanya oleh teman saya sendiri, “Jang kowe NU po Muhammadiyah?”

Artinya, “Jang kamu NU apa Muhammadiyah.”

Saya bingung mau jawab apa. Karena saya bukan keduanya.

Lalu saya jawab, “Aku hudu NU, hudu Muhammadiyah.”

Artinya, “Aku bukan NU, bukan Muhammadiyah.”

Teman saya menimpali, “Berarti kowe ra nduwe pendirian.”

Artinya, “Berarti kamu tidak punya pendirian.”

Akhirnya saya jawab, “Aku ahlus sunnah wal jama’ah.”

Bagi saya tidak penting menanyakan Islam golongan apa atau menuduh orang termasuk Islam golongan apa. Apalagi sampai memandang rendah golongan lain dan menyombongkan golongannya sendiri.

Pemahaman agama saya memang masih dangkal. Tulisan ini bukan untuk orang dangkal agar mengikuti saya. Ikuti saja gurumu yang sudah terbukti. Tulisan ini adalah untuk mencurahkan apa yang ada di hati dan pikiran saya. Apabila ada yang salah tolong dibenarkan.

Begitulah tulisan tidak jelas dari saya. Bagaimana pendapatmu?

*Terbit pertamakali di cintadamai.com lalu dipindah ke sini.