Backpacker-an Murah ke Lombok ala Traveler Pinggiran

Backpacker-an ke Lombok bukanlah ideku sebenernya. Ialah ide dari si orang pinggiran @ilhamnyaarya yang ingin mendaki Gunung Rinjani. Rencana mendaki Gunung Rinjani sudah ada sejak tahun 2014 dengan rencana keberangkatan pertengahan tahun 2015 setelah lebaran. Tapi karena kendala biaya, akhirnya kami hanya sampai Semeru saja.

Tahun 2016 masih juga duitnya Ilham si orang pinggiran belum cukup. Akhirnya duitku kuhabiskan untuk backpacker-an ke Bali. Barulah pada tahun 2017 ini kami bisa kesampaian mendaki Gunung Rinjani. Habis berapa?

Nonton Sunset di Kapal Legundi

Pilihan Moda Transportasi ke Lombok

Mari kita hitung mulai dari transportasi dulu. Ada banyak pilihan, mulai dari yang paling mahal pesawat, bis eksekutif langsung ke Mataram, ngeteng kereta dan bis, atau ada pilihan paling seru yaitu naik kapal dari Surabaya. Bingung nggak?

Ilham mendapat info entah dari mana, katanya ada kapal dari Tanjung Perak di Surabaya langsung ke Pelabuhan Lembar di Lombok. Setelah dicek ternyata memang ada dan baru beroperasi awal tahun 2017 ini. Pilihan kami mengerucut menjadi 2 pilihan. Pilihan yang pertama sesuai pengalamanku waktu ke Bali. Naik kereta ke Banyuwangi, kemudian dari Banyuwangi naik bis ke Mataram.

Pilihan kedua seperti yang sudah disebutkan, naik bis ke Surabaya lalu naik kapal ke Lombok. Kenapa nggak naik kereta? Karena naik kereta artinya dikejar waktu, harus disiplin. Kurang fleksibel, apalagi kami berangkat hari jumat. FYI, kapal dari Surabaya ke Lombok hanya ada hari selasa dan hari sabtu saja. Selain itu kami adalah anggota anti discipline discipline club.

Dengan pilihan pertama kami bingung memilih transportasi dari Banyuwangi ke Mataram. Kami memutuskan untuk menggunakan pilihan kedua, karena jatuhnya lebih murah juga. Menurut informasi yang kami dapatkan, tiket kapal dari Surabaya ke Lombok hanya 80 ribu rupiah.

Betapa singkatnya rencana transportasi kami dari Semarang ke Lombok. Dari Semarang naik bis ke Surabaya. Dari Surabaya naik kapal ke Lombok. Udah gitu doang. Nggak begitu ribet kayak backpacker beneran. Hehe. Namun seperti biasa, rencana tidak seperti kenyataan. Marilah kita beranjak ke cerita non fiksinya yang dimulai dari Terminal Terboyo, Semarang.

Cerita Dimulai

Sehari sebelum keberangkatan tepatnya tanggal 3 Agustus 2017, kami survey dulu ke Terminal Terboyo. Berdasarkan pengalamanku, tanya yang paling tepat itu ke dishub. Intinya tanya ke orang yang pake seragam dishub, jangan tanya ke orang biasa. Karena orang biasa bisa jadi adalah penyamaran dari calo. Kami memastikan jadwal keberangkatan bis dari Semarang ke Surabaya dan berapa harganya.

Pak Dishub kurang lebih berkata seperti ini, “Setiap setengah jam sekali pasti ada bis baik ekonomi maupun patas. Tapi itu hanya di siang hari. Di malam hari maksimal hanya sampai jam 11 malam. Setelah pukul sebelas bis patas hanya ada 2 jam sekali, kalau yang ekonomi agak lebih sering.”

“Untuk patas AC harganya biasanya 100 ribuan. Kalo yang biasa (ekonomi) sekitar 50 ribuan.” kata Pak Dishub menjelaskan.

Berbekal dari sabda Pak Dishub, kami memutuskan untuk berangkat sekitar pukul 9 malam hari jumat tanggal 4 Agustus 2017. Ya, rencana tinggal rencana. Keberangkatan molor menjadi sekitar pukul setengah 10 malam dari kontrakanku. Kami sampai di Terminal Terboyo sekitar pukul 10 malam.

Langsung saja kami naik bis Indonesia tanpa AC jurusan Surabaya. Saat kondektur datang, kami berdua dimintai bayar tiket seharga 120 ribu untuk 2 orang. Artinya hanya 60 ribu per orang. Ini di bawah budget kami, kami telah menyiapkan uang 100 ribu per orang hanya untuk bis ke Surabaya.

Tiket Bus PO Indonesia

Sesampainya di Surabaya

Sampai di Surabaya subuh hari. Kami mampir dulu di musholla Terminal Purabaya yang terletak di Bungurasih itu untuk memenuhi panggilan alam. Urusan kamar mandi selesai, kami melanjutkan dengan sarapan di sekitar terminal. Beruntungnya ketika sarapan kami bertemu bapak-bapak berseragam dishub. Pas dengan prinsip kami yang selalu bertanya pada dishub, bukan yang lain.

Kata Pak Dishub Purabaya, untuk ke Pelabuhan Tanjung Perak cukup bayar 5 ribu saja naik bis Damri. Murah juga, kata batinku. Setelah selesai sarapan kami tidak langsung ke tempat bis Damri parkir tapi kembali lagi ke musholla karena perutku krosing, kroso ngising.

Panggilan alam benar-benar kami tuntaskan dan saatnya menuju ke bis Damri jurusan Perak. Entah kenapa orang-orang terminal hanya menyebut Perak saja tanpa Tanjung. Bis yang kami naiki tergolong tua. Mungkin angkatannya Jenderal Sarwo Edhie Wibowo atau bisa juga seangkatan dengan Jenderal Ahmad Yani. Pagi itu bis yang kami tumpangi lumayan sepi penumpang.

Saat ditariki duit oleh kernet, kami disuruh membayar 12 ribu untuk 2 orang. Itu berarti hami harus membayar 6 ribu per orang, naik seribu jika dibanding kata Pak Dishub Purabaya. Meleset sedikit, tidak apa-apa.

Kami sampai di terminal parkir kendaraan umum Tanjung Perak, gedung tempat kantor tempat pembelian tiket terlihat dari sini. Kami melakukan pembelian tiket di kantor ASDP. ASDP adalah perusahaan yang menaungi Kapal Motor Penyeberangan (KMP) Legundi yang akan kami tumpangi. Satu orang mengantri tiket, sisanya menunggu.

Kami disuruh untuk menyiapkan identitas seperti KTP atau SIM. Setelah selesai, Ilham menunjukkan tiket kami dengan wajah sedikit sumringah. Harga yang tertera total 87 ribu. Dengan rincian jasa angkutan 70 ribu, jasa asuransi 2 ribu, ditambah pas pelabuhan 15 ribu. Ternyata beneran murah.

Tiket KMP Legundi

Kesimpulan

Berikut rincian biaya transportasi dari Semarang ke Lombok:

Bis Indonesia, Semarang – Surabaya 60 ribu,
Bis Damri, Purabaya – Perak 6 ribu,
Kapal Legundi, Surabaya – Lombok 87 ribu,

Total = 153 ribu.

Saya ulangi, total hanya 153 ribu!

Rp 153.000,-

Sekian dan terima kasur.