✕ Close

5 Tahun Belum Lulus: Cara Menjadi Mahasiswa Gagal

Saat banyak mahasiswa sudah lulus, bekerja, atau bercinta secara halal, masih ada mahasiswa yang kuliahnya entah sampai mana. Sebagai mahasiswa tingkat akhir, penulis kemudian berpikir tentang 5 tahun ke belakang. Apa saja dosa yang pernah penulis lakukan selama ini? Berdasarkan pengalaman penulis dan pengalaman teman-teman penulis, inilah cara menjadi mahasiswa gagal.

Apa saja faktor-faktor yang mendukung kegagalan seorang mahasiswa? Mari kita mulai dari awal kuliah. Penulis mencoba menjabarkan secara kronologis dan semoga tidak anakronis. Ya, ini tulisan serius.

Gagal memilih jurusan. Ini adalah kegagalan ketika SMA, bahkan salah jurusan bisa jadi bermula dari SMP. Kok bisa? Dari SMP sudah harus menentukan mau sekolah di SMA, SMK, atau sekolah aneh lainnya. Keputusan yang diambil tidak bisa diubah setelah tidak betah. Mau tidak mau harus lanjut atau ngulang lagi dari level satu.

Selanjutnya ketika SMA diberi pilihan jurusan. Ada jurusan IPA, IPS, Bahasa, Agama, Olahraga, Multimedia, Rekayasa Perangkat Lunak, dan jurusan aneh lainnya. Jika salah pilih dan merasa tidak betah harus ngulang dari awal lagi.

Baru setelah kelas 3 SMA diharuskan menentukan mau ambil jurusan apa, kuliah di mana, atau tidak kuliah sama sekali. Ketika jurusan yang ingin diambil ternyata tidak sesuai dengan jurusan ketika SMA, peluang diterima semakin kecil. Contohnya anak IPS yang pengin jadi tukang obat atau tukang insinyur.

Ketika sudah kuliah pun ada pula yang merasa salah jurusan. Kuliah menjadi tidak niat. Sering bolos, skip tugas, dan titip absen. Berniat tahun depan akan mendaftar SBMPTN lagi atau mendaftar kuliah lagi di luar negeri (swasta). Semester awal menjadi tidak efektif, buang-buang waktu, dan buang-buang uang.

Gagal memilih organisasi. Ini sebenarnya juga kegagalan ketika SMP dan SMA. Jika saat SMP dan SMA tidak pernah ikut organisasi atau ekstrakulikuler (Ekstra, Kuli, dan Sekuler), si mahasiswa barangkali akan bingung mau ikut organisasi mahasiswa atau unit kegiatan apa. Mau main teater tapi pemalu, mau gabung band tapi jari jempol semua, mau ikut persma tapi belum bisa membedakan “di” yang dipisah atau di sambung, mau jadi aktivis tapi sama dosen masih cium tangan, mau apa-apa sudah pesimis duluan.

Ketika gagal memilih organisasi, kuliah bisa jadi keteteran karena terlalu sibuk di organisasi atau sebaliknya malah jadi tidak ikut kegiatan atau organisasi sama sekali. Ujung-ujungnya tidak punya pengalaman apapun selain akademik saja. Sedih.

Gagal memilih sahabat atau pasangan. Lanjut ke semester berikutnya. Ternyata setelah merasa salah jurusan akhirnya si mahasiswa sadar kalau jurusannya tidak penting dan lebih penting hubungan dengan teman seangkatan atau teman organisasi. Kehidupan menjadi sibuk dengan hedonisme mahasiswa kekinian atau terjebak heroisme mahasiswa aktivis.

Bagi jomblo yang ikut komunitas #IndonesiaTanpaPacaran cenderung akan ngidol mencari sahabat. Bagi jomblo yang sebaliknya, akan gaspol mencari pasangan; dalam hal ini gebetan, pacar, teman rasa pacar, atau tukang ojek rasa gebetan. Tapi kalau salah memilih, kehidupan perkuliahan bisa makin kacau.

Kehidupan mahasiswa akan lebih berwarna dengan teman-teman tongkrongan, pasangan atau sahabat, dan organisasi kalau ikut. Hal ini berefek pada terbengkalainya tugas kuliah dan kolom absensi semakin kopong. Mulai masuk ke zona nyaman anak kuliahan.

Gagal menjalin hubungan dengan keluarga di rumah. Setelah memasuki zona nyaman anak kuliahan, mahasiswa mulai cenderung jauh dari keluarga di rumah. Keluarga di rumah bisa saja orang tua, saudara, atau siapapun yang memberi perhatian khusus. Gagal menjalin hubungan dengan orang rumah dapat mempengaruhi berbagai sisi kehidupan mahasiswa.

Mahasiswa dapat terjun ke lembah kecanduan, ada yang kecanduan ngegame, ada yang kecanduan ngen… eh bercinta, bahkan ada yang kecanduan mirasantika. Kehidupannya mulai terseret ke arah kesibukan fana: cuma sibuk tapi tidak menghasilkan apa-apa. Kehidupan tidak ada yang mengawasi dan mengontrol lagi. Tak terasa, tiba-tiba sudah kembali liburan semester.

Gagal memilih peminatan atau penjurusan. Pada tingkat ini, beberapa program studi ada yang masih harus melanjutkan ke peminatan atau penjurusan, meski beberapa ada yang di awal kuliah, tengah kuliah, atau akhir kuliah. Misalnya di Fakultas Hukum disuruh milih peminatan perdana, perdata, atau yang lain; contoh lain di Jurusan Sastra disuruh milih peminatan linguistik, sastra, atau yang lain. Gagal dalam memilih peminatan atau penjurusan membuat mahasiswa terancam gagal dalam membuat tugas akhir skripsi.

Pada tingkat inilah mahasiswa sudah merasakan zona yang sangat nyaman tapi mulai berpikir untuk kembali serius kuliah. Di tahap ini mahasiswa sudah dituntut untuk sedikit memikirkan penjurusan maupun tugas akhir karena waktu perkuliahan semakin berkurang dan waktu luang semakin bertambah.

Ini kembali lagi seperti semester satu atau ketika SMA. Harus menentukan mau ambil peminatan atau jurusan apa. Kegagalan dalam memilih akan berakibat pada terhambatnya proses perkuliahan dan proses penyusunan tugas akhir atau skripsi. Hal ini akan mengakibatkan terlambat lulus, terlambat bekerja, terlambat menikah, lalu terlambat punya anak. Sedih.

Gagal memilih kesibukan. Tibalah masa ketika kuliah sudah mulai sedikit dan hidup jadi lebih santai. Beberapa mahasiswa akan mencoba memilih kesibukannya masing-masing. Beberapa yang lain hanya terjebak di dunia coba-coba. Biasanya mahasiswa akan mencoba kerja part time, buka usaha, atau buka-bukaan yang lain. Buka-bukaan yang lain maksudnya buka smartphone atau laptop untuk main game atau nonton serial sampai lupa waktu. Gagal memilih kesibukan dapat menjerumuskan pada terbengkalainya kuliah dan penyusunan tugas akhir.

Beberapa mahasiswa yang merasa sudah punya penghasilan dari kerja, buka usaha, atau buka-bukaan yang lain bakal merasa bahwa lulus tepat waktu bukanlah suatu hal penting. Si mahasiswa akhirnya malah berhasil pada bidang di luar program studinya. Ia berhasil menjadi mahasiswa gagal.

Gagal menyusun tugas akhir. Ini merupakan masa-masa krusial ketika mahasiswa sudah diharuskan untuk memikirkan tugas akhir atau skripsi. Waktu perkuliahan yang nyaris kosong dan waktu luang yang nyaris tak terbatas kadang membuat mahasiswa terlena. Padahal inilah saat ketika pengalaman kuliah selama 3 tahun dipertaruhkan.

Akhirnya setelah melewati berbagai kegagalan dan melampauinya, si mahasiswa terjun ke kehidupan tugas akhir. Beberapa mahasiswa ada yang gagal memilih objek, ada yang gagal memilih teori, ada pula yang gagal mencapai jumlah SKS minimal. Beberapa mahasiswa bahkan terkendala pada masalah sepele seperti transkrip nilai yang masih kosong tapi baru sadar belakangan.

Setelah 3 tahun kuliah, si mahasiswa seperti tidak mendapatkan apa-apa untuk dijadikan tugas akhir. Akhirnya ia bingung sendiri dan lebih memilih fokus ke pekerjaan, pasangan, buka usaha, atau buka-bukaan yang lain.

Gagal menyelesaikan tugas akhir. Tibalah pada penghujung acara kali ini yaitu menyelesaikan tugas akhir. Ada beberapa mahasiswa yang mengalami kegagalan menyelesaikan tugas akhir disebabkan oleh beberapa hal, di antaranya: nasib, kurang persiapan, salah sumber, sombong, kurang percaya diri, tidak memahami cara menyusun tugas akhir, tergesa-gesa, masalah keluarga, masalah jurusan, asyik dengan hobi, lelah pada dunia fana, suka menunda, atau karena dosen pembimbing.

Meskipun semua masalah bisa diatasi, masalah dosen pembimbing (selanjutnya disebut dosbing) bisa menjadi penghambat utama. Beberapa penyebabnya antara lain: dosbing susah ditemui,  dosbing ngoceh ngalor-ngidul ketika bimbingan, dosbing plin-plan, dosbing keras kepala maunya menang sendiri, dosbing tidak suka dengan mahasiswa, dosbing cuek, atau dosbing galak. Nah, untuk dosbing galak ini kadang membuat beberapa mahasiswa ingin karaoke. Dimohon untuk tidak ketawa karena ini tulisan serius.

Lirik Lagu Dosbing Galak

Verse 1:

Wis nasibe kudu koyo ngene

Nduwe dosbing kok ra tau ngepenakke

Seneng muring omongane sengak

Kudu tak trimo dosbingku pancen galak

 

Saben dino rasane ora karuan

Ngerasake dosbingku sing ra tau perhatian

Nanging piye meneh proposalku wis ditompo

Senajan batinku ngampet ono njera dada

 

Reff:

Yo wis ben nduwe dosbing sing galak

Yo wis ben sing omongane sengak

Seneng gawe aku susah

Nanging aku DO wegah

 

Tak tompo nganggo tulus ning ati

Tak trimo sliramu tekan saiki

Pancen wis dadi jodone

Senajan kahane koyo ngene

 

Verse 2:

 

Sungguh keterlaluan dosbingku sing saiki

Kliru sitik wae aku mesti diseneni

Ameh banter nggarape kok malah diremehke

Senengane nuduh dikira tuku garapane

 

Yen wis ngono aku mung iso meneng

Tak jelasno malah mung nggawe kowe sepaneng

Di matamu aku ora tau bener

Kabeh mbok salahno, rumangsa wis paling pinter

 

Kembali ke Reff.

 

Verse 3:

 

Ibarate dele sing uwis dadi tempe

Kudu tak lakoni yen pancen ngene dalane

Abote nduwe dosbing sing galak

Lek ra keturutan senengane mencak-mencak

 

Ra usah digetuni aku kudu kuat ati

Nganti tekan lulus sliramu tetep ning ati

Distel kendo wae, tak nikmati uripe

Senajane galak dosbingku pancen sing kinclong dewe

 

Kuat dilakoni, lek ra kuat ditinggal ngopi

Tetep nggarap senajan dosbingku galak

 

Reff 2X

 

Kegagalan-kegagalan yang sudah disebutkan di atas merupakan sebenar-benarnya fakta. Ada beberapa kegagalan yang penulis alami sendiri, ada pula kegagalan yang tidak penulis alami namun dialami teman-teman penulis. Di tulisan ini penulis menggunakan kata ganti orang pertama “penulis” bukan “saya” atau “aku” karena ini tulisan serius ya. Meskipun penulis mencoba mengurutkan pola-pola kegagalan mahasiswa secara kronologis, masalah dan kegagalan bisa datang secara acak dalam kehidupan bermahasiswa. Barangkali tulisan ini kurang akurat secara kronologis, tapi sebisa mungkin penulis menghadirkan kegagalan dan masalah secara objektif.

Kegagalan dan masalah yang tidak bisa diselesaikan secara cepat, dapat mengakibatkan mahasiswa terjebak lingkaran setan sehingga lama lulusnya. Bisa lulus dalam jangka waktu 5 tahun, 6 tahun, 7 tahun, bahkan di ambang jurang DO. Untuk itu bagi pembaca sekalian yang belum terjerumus dimohon lebih berhati-hati ke depannya. Bagikan tulisan ini ke Grup WhatsApp Keluarga dan jangan berhenti di kamu!

Sekian dan terima kasur.

Tembalang, 18 Maret 2018.

Mas Jangka

Editor: Irman Hidayat

Ini sticky